Penafsiran Yang Salah terhadap Kalimat Tauhid لا إله إلا الله
A. Tidak Ada Tuhan/Pencipta Selain Allah
Banyak
kaum muslimin yang mengartikan لا إله إلا الله
dengan tidak ada Tuhan/pencipta/pemberi rezeki selain Allah. Mengartikan لا إله إلا الله seperti ini kalau kita cermati tidaklah
benar sama sekali. Hal ini disebabkan karena beberapa alasan :
1.
Arti إله dalam bahasa arab
adalah المعبود (yang
diibadahi/disembah).
-
Imam Ibnu Al-Qayyim rahimahullahu
berkata: الإله adalah yang disembah
oleh hati dengan penuh kecintaan, pemuliaan, taubat, pengagungan, kerendahan,
ketundukan, ketakutan, pengharapan, dan tawakkal. [Madariju As-Salikin 1/32]
-
Imam Ibnu Rajab rahimahullahu
berkata: الإله adalah yang ditaati dan tidak
dimaksiati dengan penuh rasa pengagungan, pemuliaan, kecintaan, ketakutan,
pengharapan, tawakkal, permintaan, dan doa kepada-Nya. Dan ini semuanya tidak
ada yang layak (menyandangnya) melainkan Allah ta'ala. [Tahqiq Kalimat
Al-Ikhlas hal.25.]
-
Ath-Thiibi berkata: الإله wazannya فِعَالٌ
maknanya مَفْعُوْلٌ seperti الكتاب
maknanya المكتوب . الإله dari kata أَلِهَ yang bermakna عَبَدَ
عِبَادَةً (yang beribadah). [Syarhu Ath-Thiibi ‘ala Misykah Al-Mashaabiih
1/98]
-
Syaikh Sulaiman Alu Syaikh
rahimahullahu berkata: Ini banyak sekali dalam ucapan para ulama dan ini adalah
ijma’ mereka, yaitu bahwasanya الإله
itu artinya yang disembah. Hal ini berlainan dengan apa yang diyakini oleh para
penyembah kuburan dan yang sejenis dengan mereka yang mengartikan الإله adalah sang pencipta atau yang Maha
Mampu untuk menciptakan atau yang semakna dengannya. Beliau juga berkata: Ini
adalah ucapan yang bid’ah, tidak ada seorang pun dari ulama atau ahli bahasa
arab yang mengatakannya. Ucapan para ulama dan ahli bahasa menyatakan seperti
yang telah kita sampaikan di atas.
2.
Orang Arab di zaman jahiliyah telah memahami makna yang
sebenarnya dari kalimat tauhid tersebut.
Hal ini karena
mereka ahli bahasa Arab dan kalimat tauhid لا إله إلا
الله dari
bahasa mereka. Oleh karena itulah ketika Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam
menyeru mereka kepada kalimat tauhid لا إله إلا الله,
mereka pun berkata:
أَجَعَلَ ٱلۡأَلِهَةَ إِلَـٰهً۬ا وَٲحِدًاۖ إِنَّ هَـٰذَا لَشَىۡءٌ
عُجَابٌ۬
"Mengapa ia menjadikan
sesembahan-sesembahan itu hanya satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu
hal yang sangat mengherankan." (QS. Shaad : 5).
Mereka memahami
dari kalimat tersebut bahwa kalimat tauhid لا إله إلا
الله itu membatalkan semua peribadahan kepada berhala-berhala dan
hanya membatasi ibadah untuk Allah saja. Sedangkan mereka tidak
menginginkan hal tersebut. Maka jelas dari sini bahwa makna لا إله إلا الله dan konsekuensinya adalah mengesakan
Allah dalam ibadah dan meninggalkan
semua sesembahan selain Allah.
Apabila seorang
hamba telah mengucapkan لا إله إلا الله
maka dia telah mengikrarkan kewajiban untuk mengesakan Allah dalam ibadah
dan menolak untuk beribadah kepada selain-Nya baik kepada kuburan, para wali,
dan orang-orang shalih. Dari sini jelas kesalahan para penyembah kuburan
dan yang semisal dengan mereka yang mengartikan لا إله
إلا الله dengan Allah itu ada atau Allah adalah sang pencipta atau yang
maha mampu untuk menciptakan dan yang semisal dengannya.
3.
Jika makna لا إله إلا الله
itu tidak ada Tuhan/pencipta selain Allah, maka otomatis orang-orang musyrikin
jahiliyah masuk Islam dan tidak akan diperangi oleh Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam.
Karena apa? karena mereka yakin dengan seyakin-yakinnya
bahwa tidak ada yang menciptakan, memberi rezeki, mengatur alam semesta
melainkan Allah semata. Allah berfirman:
Katakanlah:
"Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah
yang Kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang
mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang
hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?" Maka mereka akan
menjawab: "Allah". Maka Katakanlah "Mengapa kamu tidak bertakwa
kepada-Nya)?" (QS. Yunus : 31)
Allah juga berfirman :
"Dan
Sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan
langit dan bumi?" tentu mereka akan menjawab: "Allah".
Katakanlah: "Segala puji bagi Allah"; tetapi kebanyakan mereka tidak
mengetahui. (QS. Luqman : 25)
Syaikh Sulaiman
Alu Syaikh berkata : "Tidaklah mereka merasa bahwa saudara-saudara mereka
dari orang-orang kafir Qurasiy bersekutu dengan mereka dalam pengikraran ini.
Dan mereka memahami bahwa Allah adalah sang pencipta dan yang Maha Berkuasa
untuk menciptakan. Sesuai dengan pengartian para penyembah kubur tersebut maka
Abu Jahl, Abu Lahab, dan yang mengikutinya telah memeluk Islam. Demikian pula
dengan saudara-saudara mereka yang menyembah Wad, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan
Nashr. Seandainya makna kalimat tauhid seperti yang mereka (orang-orang jahil)
yakini maka tidak ada lagi perselisihan antara Rasul shallallahu 'alaihi wa
sallam dengan orang-orang kafir Quraisy tersebut. Bahkan mereka (versi
penafsiran yang salah tersebut) bersegera untuk memenuhi seruan Rasul
shallallahu 'alaihi wa sallam ketika beliau mendakwahi mereka: Katakanlah لا إله إلا الله , (jika) itu bermakna tidak ada pencipta
selain Allah. Mereka pun berkata kami mendengar dan kami mentaati.
4.
Makna
diatas menyelisihi apa yang dipahami dan diserukan oleh para Nabi dan Rasul.
Sedangkan mereka adalah orang yang paling paham tentang makna لا إله إلا الله. Dan mereka telah sepakat untuk
mengartikannya dengan tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan
Allah. Allah berfirman:
"Dan sesungguhnya Kami telah
mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah
(saja), dan jauhilah Thaghut itu”. (QS. An-Nahl : 36)
"Sesungguhnya Kami telah
mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: "Wahai kaumku sembahlah
Allah, sekali-kali tak ada sesembahan (yang haq) bagimu selain-Nya."
Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa
azab hari yang besar (kiamat)." (QS. Al-A’raf : 59)
"Dan (kami telah mengutus)
kepada kaum 'Aad saudara mereka, Hud. ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah
Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain dari-Nya. Maka mengapa kamu
tidak bertakwa kepada-Nya?" (QS. Al-A’raf : 65)
Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul
Wahhab rahimahullahu berkata: Penafsiran kalimat tauhid لا إله إلا الله itu dijelaskan
oleh firman-Nya:
"Dan ingatlah ketika Ibrahim
berkata kepada bapaknya dan kaumnya: "Sesungguhnya aku berlepas diri dari
apa yang kalian sembah kecuali (Allah) yang menjadikanku; karena sesungguhnya
Dia akan memberi hidayah kepadaku". Dan beliau menjadikan kalimat tauhid
itu kalimat yang kekal pada keturunannya supaya mereka kembali kepada kalimat
tauhid itu." (QS. Az-Zukhruf : 26-28).
5.
Makna tidak ada Tuhan selain Allah tidak sesuai dengan
fakta yang ada. Karena berapa banyak Tuhan-Tuhan selain Allah di atas muka bumi
ini.
Allah berfirman tentang dakwah Nabi
Yusuf ketika di penjara:
"Hai kedua
penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu
ataukah Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa? Kamu tidak menyembah yang selain
Allah kecuali hanya (menyembah) Nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya.
Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang Nama-nama itu. keputusan itu
hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah
selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak
mengetahui." (QS. Yusuf : 39-40)
Allah juga berfirman:
Allah juga berfirman:
"Mereka
menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain
Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al masih putera Maryam, Padahal mereka
hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah)
selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan."
(QS.At-Taubah : 31)
6.
Kata-kata “Tidak ada tuhan selain Allah” ini bisa
mengantarkan kepada aqidah sesat dan kufur yaitu aqidah wihdatul wujud.
Aqidah yang
meyakini bahwa semua yang ada di alam semesta ini adalah wujudnya Allah. Dan
bahwasanya Tuhan-tuhan yang disembah oleh manusia di atas muka bumi ini
hakikatnya adalah Allah. Na’udzu billahi min dzalik.
Berkata Ibnu Arabi
Ash-Shuufi: Sesungguhnya Al-‘Arif (yang sampai tingkatan ma’rifah) adalah yang
melihat Allah itu ada dalam segala sesuatu bahkan dia melihat bahwa Allah
adalah wujud segala sesuatu. Dia juga berkata: Al-‘Arif yang sempurna adalah
yang melihat semua sesembahan (manusia) itu adalah jelmaan Allah yang disembah.
Oleh karenanya mereka menamakannya sesembahan meskipun nama aslinya adalah
batu, pohon, hewan, manusia, bintang atau malaikat.
Setiap orang yang
berakal sehat pasti mnegingkari ucapan di atas ini. Allah berfirman:
"Dan mereka tidak mengagungkan
Allah dengan pengagungan yang semestinya. Padahal bumi seluruhnya dalam
genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya.
Maha Suci Allah dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan."
(QS. Az-Zumar : 67)
Komentar
Posting Komentar