KJ - Ketika Engkau Sakit

Kita mengetahui bersama bahwa kadang kita berada dalam kondisi sehat dan dalam kondisi sakit.

HAL YANG PATUT DIPAHAMI DAN DIYAKINI OLEH SEORANG MUSLIM DARI PERISTIWA SEHAT DAN SAKIT :

1. Bahwa kondisi sehat adalah suatu kenikmatan dan kondisi sakit adalah suatu ujian atau musibah yang di dalamnya terdapat hikmah yang sangat agung.

2. Hanya Allah subhanahu wa ta'ala saja yang menghidupkan dan mematikan. Hanya Allah subhanahu wa ta'ala yang memberikan kesehatan dan menyembuhkan dari sakit.
Sehingga wajib diyakini oleh setiap muslim tidak boleh dia menyakini seorang dokterlah yang menyembuhkan atau dia menyakini obat ini dan obat itu yang dapat menyembuhkan. Namun yang harus dia yakini adalah bahwa hanya Allah subhanahu wa ta'ala saja yang memberikan kesehatan dan kesembuhan ketika sakit.
Seandainya dokter tersebut tidak ada kita masih dapat sembuh dengan izin Allah subhanahu wa ta'ala. Seandainya obat tersebut tidak diminum kita masih dapat sembuh dengan izin Allah subhanahu wa ta'ala. Walaupun kita diperintahkan untuk terus mencari sebab supaya penyakit kita sembuh. Namun harus diyakini hanya Allah subhanahu wa ta'ala yang memberikan kesehatan dan kesembuhan secara mutlak.
Kita lihat pelajaran nabi Ibrahim alaihi salam yang menyebutkan sifat-sifat Allah subhanahu wa ta'ala, bagaimana nabi Ibrahim alaihi salam tidak mau menyembah kepada selain Allah subhanahu wa ta'ala. Nabi Ibrahim hanya ingin menyembah kepada Allah subhanahu wa ta'ala saja.
Di dalam Al Qur'an surat Asy syuara ayat 77 - 81
فَإِنَّهُمْ عَدُوٌّ لِي إِلَّا رَبَّ الْعَالَمِينَ
Sesungguhnya mereka (apa yang kamu sembah) itu musuhku, lain halnya Tuhan seluruh alam,
الَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهْدِينِ
(yaitu) Yang telah menciptakan aku (memberi kehidupan padaku), maka Dia yang memberi petunjuk kepadaku,
وَالَّذِي هُوَ يُطْعِمُنِي وَيَسْقِينِ
dan Yang memberi makan dan minum kepadaku;
وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ
dan apabila aku sakit (baik ringan atau berat), Dialah yang menyembuhkan aku,
وَالَّذِي يُمِيتُنِي ثُمَّ يُحْيِينِ
dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali),

Nabi Ibrahim menyandarkan kesembuhan hanya kepada Allah subhanahu wa ta'ala saja, bukan kepada dokter yang ia datangi atau obat yang dia minum.

Dari A'isyah radhiyallahu 'anha, beliau menceritakan :
 أنَّ النبيَّ صلى اللهَ عليهِ وسلمَ كانَ يُعَوِّذُ بعضَ أهلِهِ ، يمسحُ بيدِهِ اليُمْنَى ويقولُ :
Apabila ada di antara kami yang sakit maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengusapkan tangan kanan beliau, kemudian membaca:
اَللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ البَاسَ، اِشْفِ أَنْتَ الشَّافِي، لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا
Ya Allah, Tuhan seluruh manusia, hilangkanlah sakit ini, sembuhkanlah, Engkaulah As-Syafi (Sang Penyembuh), tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit. (HR. Bukhari dan Muslim)

Disimpulkan dari hadits tersebut bahwa Allah subhanahu wa ta'ala sajalah Yang Maha Penyembuh. Maka bagi setiap muslim harus menyakini bahwa yang menyembuhkan adalah hanya Allah subhanahu wa ta'ala. Tidak boleh dikatakan yang menyembuhkan adalah dokter atau obat yang telah diminum.

HIKMAH DARI SUATU MUSIBAH/ PENYAKIT YANG DIALAMI :

1. Penyakit tersebut akan mengangkat derajat orang yang terkena musibah tersebut.

Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,
ﻣَﺎ ﻳُﺼِﻴﺐُ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻦَ ﻣِﻦْ ﺷَﻮْﻛَﺔٍ ﻓَﻤَﺎ ﻓَﻮْﻗَﻬَﺎ ﺇِﻟَّﺎ ﺭَﻓَﻌَﻪُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺑِﻬَﺎ ﺩَﺭَﺟَﺔً ﺃَﻭْ ﺣَﻂَّ ﻋَﻨْﻪُ ﺑِﻬَﺎ ﺧَﻄِﻴﺌَﺔً
“Tidak ada satupun musibah (cobaan) yg menimpa seorang muslim berupa duri atau yg semisalnya, melainkan dengannya Allah akan mengangkat derajatnya atau menghapus kesalahannya.” [HR.Muslim]

2. Penyakit tersebut akan menghapuskan/ menggugurkan dosa-dosa (kecil/ besar), sebagaimana daun-daun yang berguguran dari pohon, dan akan bersih dari dosa/ hukuman ketika menghadap Allah subhanahu wa ta'ala.

Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,
ﻣَﺎ ﻣِﻦْ ﻣُﺴْﻠِﻢٍ ﻳُﺼِﻴﺒُﻪُ ﺃَﺫًﻯ ﻣِﻦْ ﻣَﺮَﺽٍ ﻓَﻤَﺎ ﺳِﻮَﺍﻩُ ﺇِﻟَّﺎ ﺣَﻂَّ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺑِﻪِ ﺳَﻴِّﺌَﺎﺗِﻪِ ﻛَﻤَﺎ ﺗَﺤُﻂُّ ﺍﻟﺸَّﺠَﺮَﺓُ ﻭَﺭَﻗَﻬَﺎ
“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya.” [HR. Bukhari dan Muslim]

Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,
"ﻟَﺎ ﻳَﺰَﺍﻝُ ﺍﻟْﺒَﻠَﺎﺀُ ﺑِﺎﻟْﻤُﺆْﻣِﻦِ ﺃَﻭْ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨَﺔِ، ﻓِﻲ ﺟَﺴَﺪِﻩِ، ﻭَﻓِﻲ ﻣَﺎﻟِﻪِ، ﻭَﻓِﻲ ﻭَﻟَﺪِﻩِ، ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﻠْﻘَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﻣَﺎ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻣِﻦْ ﺧَﻄِﻴﺌَﺔٍ"
Bencana senantiasa menimpa orang mukmin dan mukminah pada dirinya, dan hartanya (misalnya hilang), dan anaknya (misalnya nakal/ susah dididik), sehingga ia berjumpa dengan Allah dalam keadaan tidak ada kesalahan pada dirinya (yaitu bersih dari dosa-dosa yang ada) ”.
(HR. Tirmidzi no. 2399, Ahmad II/450, Al-Hakim I/346 dan IV/314, Ibnu Hibban no. 697, dishohihkan Syeikh Albani dalam kitab Mawaaridizh Zham-aan no. 576).

Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,
ﺇِﺫَﺍ ﺃَﺭَﺍﺩَ ﺍﻟﻠﻪُ ﺑِﻌَﺒْﺪِﻩِ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮَ ﻋَﺠَّﻞَ ﻟَﻪُ ﺍﻟْﻌُﻘُﻮْﺑَﺔَ ﻓِﻲ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ
ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺃَﺭَﺍﺩَ ﺍﻟﻠﻪُ ﺑِﻌَﺒْﺪِﻩِ ﺍﻟﺸَّﺮَّ ﺃَﻣْﺴَﻚَ ﻋَﻨْﻪُ ﺑِﺬَﻧْﺒِﻪِ ﺣَﺘَّﻰ ﻳُﻮَﺍﻓِﻲَ ﺑِﻪِ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ
“Apabila Allah menginginkan kebaikan bagi seseorang hamba, maka Allah menyegerakan siksaan baginya di dunia dan apabila Allah menginginkan kejelekan kepada hamba-Nya maka Allah akan menunda balasan dari dosanya, sampai Allah sempurnakan balasannya di hari kiamat." [HR. At-Tirmidziy no.2396 dari Anas bin Malik, lihat Ash-Shahiihah no.1220]

Berarti salah satu ciri orang yang dinginkan kebaikan oleh Allah subhanahu wa ta'ala adalah ketika ia mendapat musibah di dunia seperti penyakit. Dengan musibah tadi dia akan bersih dari dosa dan kesalahannya, diangkat derajatnya, dan akan bertemu dengan Allah subhanahu wa ta'ala lepas dari siksa yang ada.

Maka ketika seorang muslim ditimpa musibah, wajib baginya bersabar & mengaharapkan pahala dari Allah subhanahu wa ta'ala.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Biografi Dr. Umar Sulaiman al-Asyqar Rahimahullah ta'ala

syair tentang bekal taqwa

Musnid Muda Nusantara